kurang?
kalau kau mau aku tuang
kurang?bagian yang selalu menghilang
kurang?
bahkan bulan pun tak pernah lama menikmati bundarnya
kurang?
sebagian yang hilang yang kau sebut rindu
kurang
Mbajak
sampai pagi ini masih ramai dibicarakan bajak, membajak karya. Odakah orang yang tidak pernah membajak karya orang lain di negeri ini? adakah orang di negara ini yang tidak pernah nonton DVD bajakan? adakah orang yang mengaku berbangsa indonesia ini pernah mendengarkan musik asli, yang berbayar? Adakah pengguna komputer yang tidak pernah menggunakan aplikasi bajakan?
Kenapa orang membajak? kenapa orang mengkonsumsi barang bajakan? satu hal yang pasti adalah murah dan cepat saji. Kita dididik untuk selalu mbeling. mencurangi orang lain. kalaupun kita tidak berniat mencurangi, namun kita ditimang oleh produk2 bajakan. dan kita terbuai.
maaf ini jadi mleber ke ranah korupsi. ya karena menurut saya membajak, atau mengkonsumsi barang bajakan itu juga perilaku korup. orangnya disebut koruptor.
Kasus bajak membajak ini sudah mendarah daging, dan ketika diingatkan bahwa membajak itu salah, kita malah sibuk membuat dalih, dalil, dan pembenaran bahwa kekeliruan itu hanya salah istilah, salah tempat dan waktu.
Misalnya, membajak aplikasi itu dibenarkan karena harga aplikasi itu mahal. maka kesalahan dari pembajakan ditimpakan kepada produsen aplikasi, salah sendiri menjual aplikasinya mahal. coba kalau dijual dengan harga murah, pasti tidak ada yang membajak. lhoooo kan… golek bener re dewe….
saya tidak seputih yang saya tulis. saya juga masih menjadi koruptor. tapi…. maaf tidak ada tapinya…saya koruptor titik saja…. saya koruptor yang alergi pada koruptor lain…. wahinggggggggggggggggg…. water melonnnn…. dan senyum kecut untuk saya yang masih koruptor….
(pikiran koruptor dalam menanggapi kasus pembajakan karya @YgMaha_Tooliq )
kata cermin
Kata cermin,
Perempuan itu layaknya lintah
Lembab, cenderung basah adalah tempat hidupnya
Kata cermin,
Perempuan itu serupa lintah
Menyecap dan menghisap adalah cara hidupnya
Kata cermin,
Perempuan itu seperti lintah
Bukan hanya penis yg diburu tetapi juga kemerdekaan mangsanya
Kata cermin
Perempuan itu adalah lintah
Memindahkan segala uang, waktu, bahkan bahagia mangsanya untuk digagahinya
lemah
mengaduk rambutnya menjadi pintalan
mencari logika dalam onggokkan sumsum yang terpilin
tak ada
barangkali tersesat di labirin memorimu
barangkali terjepit di ruas tulang belakangmu
barangkali tersangkut seperti barang yang di kali
mungkin, ketidak pastian yang dibenarkan
mengaduk rambutnya menjadi pintalan
mencari logika dalam onggokkan sumsum yang terpilin
tak ada
ketika angka tujuh setengah menjadi milikmu
ketika turangga minta untuk dimandikan
Ketika gelombang suara mengetok pintu pesawat
ketika 30 hari minta untuk dihidupi
kau malah bertanya
apakah aku punya angka?
mengaduk rambutnya menjadi pintalan
mencari logika dalam onggokkan sumsum yang terpilin
tak ada
barangkali memang tak ada
ketika kau genggam angkaku
dan kau dalam genggamanku masih ada angka
padahal aku menggenggam marah
mengaduk rambutnya menjadi pintalan
mencari logika dalam onggokkan lemak yang sembunyi di kerasnya ego
sia-sia
bulan ini bulan
bulan ini harusnya penuh
tapi tidak kali ini
bulan ini kini melengkung separuh semangkasebagiannya ada dalam mulut manyun yang kecewa
bulan ini harusnya penuh
tapi tidak kali ini
bulan ini kini melengkung manyun
sebagian mimpinya dirampok betari kurungan
bulan ini harusnya penuh
tapi tidak kali ini
bulan ini kini terkurung dalam karung mendung
sebagian cahaya ingin meronta menembus pori
batari kurungan melahapnya lagi
bulan ini harusnya penuh
tapi tidak kali ini
ini bulan mei ke-13
BERPERIPEROKOKKAN DI HARI ANTI TEMBAKAU
Tanggal terakhir di bulan Mei adalah hari yang paling tidak disukai bagi para penikmat racikan tembakau, tetapi diagungkan oleh pembenci tembakau. Pasalnya, orang-orang yang tidak suka bau tembakau mendapatkan angin setelah ratusan penelitian menyimpulkan bahwa asap tembakau berbahaya bagi kesehatan. Statistik yang mengerikan disajikan, ketika tobaccoatlas.org mengunggah fakta bahwa 50 juta orang dalam 10 tahun terakhir terbunuh oleh tembakau yang dikemas dalam gulungan dan harus bertanggung jawab atas lebih dari 15 % dari semua kematian pria dan 7 % kematian perempuan.
Laboratorium kesehatan sukses memberi stigma buruk pada tembakau. Karena tuhan (dengan t kecil) kesehatan telah bersabda maka khalayak dengan cepat mengimaninya. 170 Nagari dipaksa, terpaksa, atau bersilat politik untuk meratifikasi kesepakatan tembakau dengan dalih pembatasan tingkat merokok, perlindungan terhadap para perokok pasif, serta membatasi iklan dan promosi rokok. Melindungi, adalah key word-nya, senyatanya rokok adalah pembunuh. Hal tersebut tersirat dalam kalimat Direktur Jenderal WHO Margaret Chan yang berkata, “Kami tidak akan pernah membiarkan industri tembakau berada di atas angin. Tembakau adalah pembunuh. Tidak boleh diiklankan, disubsidi, atau dibuat glamor.”
Berdasarkan tulisan di atas, Anda bisa menyimpulkan bahwa penulis adalah perokok. Betul! Kami (perokok), memang minoritas, hanya 1,3 milyar dari 7 milyar penduduk bumi. Akan tetapi kami adalah pemberani, karena peringatan bahaya rokok yang didesain dengan begitu mengerikan dan terbaca sebagai ancaman, sukses kami angin lalu-kan. Kami bebal? Ya, karena masih ada ratusan juta perokok yang justru hidup lebih lama dari pada orang-orang yang tidak perokok. Sebagian dari kami kebal hati karena memiliki anggapan bahwa kesepakatan untuk memojokkan tembakau hanyalah ulah para ekonom yang ngiler dengan bisnis rokok yang kemudian membiayai penelitian rokok.
Sangat tidak adil jika kacamata kesehatan dipakai sebagai senjata untuk mengatur tembakau. Apakah tidak sebaiknya kesepakatan yang dipaksakan untuk diratifikasi tersebut harus lulus meta perspektif dan mega komprehensif?
Pro dan kontra terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang pengendalian tembakau memang masih berlangsung. Namun, kalau boleh saya meminjam (semoga ini bukan pembenaran dan pemakluman) salah satu kata dalam tema APP 2013 yaitu berbela rasa dan saya masukkan dalam tata krama perokok atau bagaimana menjadi perokok yang berperiperokokkan. Jika asap rokok menggangu kenyaman orang disekitar kami, maka sebaiknya rokok dimatikan atau menjauh dari yang merasa terganggu.
Oleh karena itu, “Saya mengaku, kepada Allah yang Maha Kuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya adalah perokok budiman karena saya tidak merokok di rumah, di kamar mandi, di kendaraan umum, dan di tempat-tempat umum yang menerakan larangan merokok. Saya adalah perokok budiman, saya tidak pernah membeli rokok, saya hanya membantu teman untuk menghabiskan rokoknya. Tuhan, ampuni saya orang yang berdosa ini.”